Toples Bekas Pun “Datangkan” Uang Jutaan

DENPASAR (Berita SuaraMedia) – Kue kering tanpa toples cantik rasanya kurang afdol. Tapi, Anda tidak memiliki anggaran lebih untuk mengganti toples usang. Jangan putusa asa. Dengan sedikit kreativitas, toples lama bisa disulap jadi cantik.

Salah satunya dengan cara memanfaatkan limbah dari tanaman kering. Mulai dari biji-bijian, daun, kulit pohon, sampai bunga kering bisa dijadikan pemanis toples atau kaleng bekas. Inilah yang dilakukan Rien Sutedja, ibu rumah tanggal asal Badung, Denpasar, Bali, baru-baru ini.

Toples berhias bunga kering rata-rata dijual kisaran Rp 10 ribu sampai Rp 20 ribu. Tertarik membuat sendiri di rumah? Selain menghemat biaya, bahan pembuatan aksesoris bunga kering juga mudah didapat karena kita bisa temukan di jalan atau di sekitar rumah.

Perlu kejelian untuk menangkap peluang. Bisa jadi peluang itu ada di sekitar kita dan bisa menjadi lahan bisnis menggiurkan. Begitu juga dengan Galuh (29) yang sudah membuktikan hal itu. Dia memanfaatkan sejumlah barang bekas di rumahnya atau di lingkungannya menjadi produk kreatif yang laris dijual di pasaran.

Syaratnya butuh keuletan, karena keuntungan tak selalu datang dalam tempo cepat. Dengan kreativitas dan keuletan, Galuh mengembangkan usaha kreatifnya dengan memanfaatkan barang bekas di rumahnya. Meski begitu, produknya selalu punya tema berbeda-beda. “Biar pembeli enggak bosan, dan produk mengikuti tren,” kat Galuh yang tahun ini mengusung tema Save Our Earth.

Di tangan galuh, tepung maizena, pewarna makanan, dan lem kayu diolah menjadi barang kreatif yang laku dijual. Semua bahan itu diaduk hingga menjadi clay, kemudian dibentuk sesuai yang diinginkan. Untuk mcmpercantiknya diberi pewarna makanan. Setelah jadi, dijemur. Hasilnya, semua bahan tadi menjadi miniatur pemandangan alam bawah laut yang indah, lengkap dengan ikan-ikan dan tumbuhan laut dengan warna-warni yang ceria.

“Barang-barang di sini, sebagian hanya contoh. Karena barang diluncurkan sebulan jelang bulan Puasa. Untuk menyambut Lebaran, kami punya sejumlah produk baru, antara lain glass pain ting dan berbagai produk dari bordir,” ujar pemilik nama asli Siti Rachmawati ini.Boleh dibilang, produk buatan Galuh bukan salah satu kebutuhan pokok manusia, sehingga begitu dibuat tak langsung laris dibeli.

Itu sebabnya, dia harus putar otak setiap akan meluncurkan produk barunya. Sejumlah tema ditentukan, tujuannya agar selalu menarik masyarakat.Galuh memiliki usaha kreatif di bawah bendera The Semut di rumahnya di Jalan Prafon V No 18, Rawamangun, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu. Di ruangan kerjanya yang berukuran 3×4 meter persegi itu terdapat beberapa rak, tempat peraga berbagai produknya. Di sebelah produk glass painting, terdapat berbagai toples hias dengan beragam kreasi berbeda.

Sesuai tema yang diusung tahun lalu, “Save Our Earth”, Galuh menampilkan aneka toples hias dengan memakai bahan daur ulang alias limbah, seperti, karung goni, kerang-kerangan, bunga kering dari jagung, kertas semen hingga kulit pembungkus tahu. Karena tema produk harus berbeda-beda, Galuh sudah menyimpan sejumlah tema yang akan diluncurkan sampai akhir tahun.

Di samping memberi tema untuk marketing, The Semut juga mengeluarkan produk baru setiap tahun. “Kita selalu bikin sesuatu yang baru agar orang tidak bosan,” ujarnya. Dengan kreativitas dan keuletan, bisnis The Semut makin berkembang. Tahun lalu, omsetnya mencapai Rp 42 juta, dan khusus bulan Puasa nilainya mencapai Rp 20 juta. Menariknya, sekitar 90 persen penjualannya dilakukan lewat online.”Mungkin untuk pasar Jakarta, tren toples hias itu sudah lewat. Tapi, untuk Sumatera dan Kalimantan, pasarnya masih bagus,” kata ibu dua anak ini.

Dari rumah

Apa yang dilakukan Galuh sekali lagi menunjukkan bahwa berbisnis bisa dilakukan dari rumah, dengan memanfaatkan teknologi internet dan passion yang ada.”Saya memulai usaha kreatif ini tahun 2006. Sebab, saya bukan orang yang senang kerja di kantor. Passion saya di bidang usaha kreatif, ya, itu saja ditekuni,” ujar alumnus Fakultas Psikologi Universitas YAI, Jakarta ini.

Galuh juga memilih usaha ini karena bisnisnya unik dan belum banyak pesaing. Kemampuannya melukis dan terampil membuat barang-barang kerajinan diperolehnya secara otodidak. “Intinya, semua usaha kalau diseriusin. Insya Allah pasti maju. Bisnis saya bikin toples hias, temyata bisa berkembang. Kelihatan jelas perkembangannya dari bulan ke bulan; tahun ke tahun,” kata istri Triyana ini.

Triyana adalah karyawan pabrik motor terbesar di Indonesia. Dia sangat mendukung usaha bisnis istrinya itu. Bahkan, Triyana sendiri sudah mulai terjun dalam bisnis kerupuk sejak tiga tahun lalu. “Saya suka bantu bisnis kerupuk, apalagi kalau ide kreatif saya lagi mandek atau pasar lagi sepi. Ya, barang kerajinan ini kan bukan kebutuhan pokok. Ini barang untuk seru-seruan saja, untuk kesenangan bagi mereka yang punya uang belanja lebih,” ujar Galuh.

Ketika memulai usahanya tahun 2006, Galuh belum menggunakan toko online. “Waktu itu, saya memasarkan toples hias itu lewat teman-teman saya. Tahun pertama, usaha saya masih mengandalkan pasar Lebaran,” katanya. Dengan memanfaatkan bisnis online, pasarnya bisa dikembangkan menjadi sepanjang tahun dan menyebar ke berbagai daerah, seperti, Palembang, Medan, Bengkulu hingga Pontianak, Banjarmasin dan Lombok.

Lewat sharing dengan sesama pengusaha dan terus belajar, Galuh dan Triyana makin piawai mengelola bisnisnya. Bayangkan untuk memasuki pasar tahun 2011, mereka sudah menyiapkan produk baru. “Untuk survive kita dituntut untuk kreatif,” ujar Galuh. Itu sebabnya, dia banyak membaca buku dan berselancar di internet untuk mencari data-data atau ide kreatif lainnya. Tanpa banyak mencari literatur sulit bagi Galuh untuk mengembangkan bisnisnya. Bukan saja soal produk tetapi juga tren memasarkan produk, yang salah satunya dilakukan secara online.

Perihal ighoen
jadikan hidup lebih bermanfaat menuju akhirat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: