Berpendapatan Rp1 miliar per bulan. Dia pelawak termahal, yang tak mau hidup berlebihan.

VIVAnews –TAK banyak yang tahu, di Karet Pedurenan, Kuningan, Jakarta Selatan, tinggal seorang pelawak yang kini lagi moncer. Entis Sutisna, 34 tahun, konon salah satu pelawak termahal tahun ini. Dia disebut-sebut berpenghasilan Rp 1 miliar per bulan.

Selain ngetop lewat acara Opera Van Java (OVJ) di Trans7, dan Awas Ada Sule di Global TV, tawaran manggung datang bak hujan. Rezekinya pun mengalir deras. Entis Sutisna, lelaki asal Ciawi itu, tahun ini memang lagi laris. Dia akrab, dan terkenal, dengan panggilan Sule, alias Sunda Bule.

Tapi, Sule yang saat hidupnya susah pernah berdagang bakso dan ayam goreng keliling itu, tetap bersahaja. Dia memilih tinggal di rumah kos, meski uangnya yang ruah itu mampu menyewa apartemen bertarif  Rp 7 juta per bulan. “Lebih baik kos di sini saja, Rp2,5 juta sebulan. Sisanya bisa buat kebutuhan lain,” ujar Sule serius.

Demikianlah, suatu sore di awal September lalu, lawatan dilakukan ke rumah kos di Karet Pedurenan itu. Setelah pintu diketuk tiga kali, seorang lelaki gondrong pirang muncul dari balik pintu.  “Ya . Ini dari mana ya?” ujar lelaki itu. Logatnya kental Sunda.

Setelah Beno Junianto dari VIVANews memperkenalkan diri, Sule kontan menyahut. “O, dari VIVAnews. Saya kira dari Kapolsek. Silakan, jangan duduk,” ujarnya. Itulah Sule. Dia kerap bercanda.

Kamar itu lumayan luas, sekitar enam kali tujuh meter. Perabotannya sederhana, khas anak kos: tempat tidur, televisi, dispenser, dan lemari. Juga ada kamar mandi, dan dapur kecil.  “Walaupun hanya kamar, tapi ini rumah saya. Meski tak besar, yang penting bersih, biar tidur saya nyaman.  Bila ada tamu juga jadi tempat nyaman ngobrol, atau wawancara,” ujar Sule.

Di bilik itu pula, Sule tinggal bersama manajernya Adi. Kadang sejumlah kru band OVJ menginap di sana. Di dindingnya, ada foto Sule bergaya wakil presiden. Lalu ada gambar bersama tim OVJ. Yang mencolok adalah foto Sule bergaya Rhoma Irama. “Saya memang mengidolakan dia,” ujar Sule menyebut si raja dangdut, yang akrab dipanggil Bang Haji itu.

Ada cerita soal foto bergaya Rhoma Irama itu. Dia memang tergila-gila dengan Rhoma sejak dulu. Di era tahun 70an dan 80an, semua album Rhoma meledak di pasar. “Saking sukanya, saya dulu sering berangan-angan bisa bertemu Bang Haji”, ujar Sule.

Pada suatu hari, mimpi itu jadi kenyataan.

Sule tampil meniru gaya Rhoma Irama pada satu acara hiburan. Dia memakai kostum khas Bang Haji. Jubah menjuntai nyaris menyentuh lantai, dan sepatu bot kulit nyaris setinggi lutut. Dia makin menjadi-jadi meniru gaya Rhoma: gitarnya diayun ke kiri, dan ke kanan. Sekali-kali berteriak, dan melambaikan tangan.

Tanpa sepengetahuan Sule, dan ini kejahilan produser, Rhoma tiba-tiba hadir di belakang Sule yang tengah asyik beraksi. “Saya shock,” Sule mengenang. Untungnya, Bang Haji tak marah. Dia malah sumringah. 

***

Sule adalah seorang pekerja keras. Pada hari VIVAnews menemui dia, kata manajernya, Sule hanya tidur tiga jam. Apalagi menjelang Ramadan kemarin, dia bisa kerja sampai pukul 4 pagi. “Setelah itu ada briefing lagi untuk acara malamnya. Jadi, dia baru sampai ke kamar kos pukul satu siang. Langsung tepar,” ujar Adi, manajer Sule.

Itupun, pada bulan puasa, agenda Sule tak sepadat hari biasa. Di bulan Ramadan, Sule mengaku hanya fokus di acara ‘Sahur OVJ’, dan sesekali ada kegiatan rekaman gambar (taping), atau tampil menyanyi. Hari itu, Sule akan syuting paket acara Lebaran.

Sore itu, selesai mandi, dia bercerita, tentang kegiatannya. “Di kamar kos, saya membaca, menonton TV dan tidur. Pokoknya beristirahat,” ujarnya. Bila bosan di kamar, dia ngobrol dengan penghuni kamar sebelah, atau pemilik kos. Sejak kecil, dia terbiasa bersilaturahmi dengan tetangga.

Sule pun berkisah tentang masa lalunya (baca Metamorfosis Sule). Dia hidup susah. Setelah menikah pada 1997, di sela acara manggung di kampung, Sule berjualan jagung rebus, ayam goreng, dan juga kebaya.  “Saya dulu sering memberikan cicilan. Kebaya harga Rp60.000, dicicil tiga kali jadi Rp65.000. Meski untung sedikit, saya tetap semangat,” ujarnya.

Sule mengaku belajar perjuangan hidup dari ayahnya. Berjualan bakso selama 35 tahun, si ayah melakoni hidup dengan gembira. Ayahnya juga gemar membanyol. Itu sebabnya para pelanggan baksonya betah. ”Cara saya bisa dekat dengan fans, saya pelajari lewat gaya ayah itu,” ujar Sule.

Kini, meski Sule sudah ngetop, ayahnya tak pernah meminta apapun. Tapi Sule rutin mengirimkan uang ke orang tuanya itu. “Agar dia tidak perlu bekerja lagi. Tapi, bapak itu nggak bisa diam di rumah. Dia masih suka diam-diam dagang bakso,” kata Sule yang gemar pakai anting ini.

Ada cerita menarik soal anting Sule. Dia adalah kedua dari empat bersaudara, tapi sebenarnya ibunya pernah mengandung 11 anak. Tujuh saudaranya meninggal saat masih bayi. “Akhirnya, bapak saya ke orang pintar,” ujarnya.  Saat itu ada mitos agar anak berikutnya selamat, maka anak lebih tua harus memakai anting, dan jangan diaku sebagai anak.

Sule yang masih kecil pun diberi anting oleh ayahnya. Boleh percaya atau tidak, dua adik Sule lahir selamat, dan sehat sampai sekarang. “Jadi, zamannya belum ngetrend pria pakai anting, saya sudah sering diledekin banci oleh teman-teman,” ujarnya mengenang. Tapi, anting itu pula yang membuat penampilannya khas, dan rezekinya jadi kian lancar.

***

Tak terasa hari memasuki malam, dan Sule bersiap berangkat syuting di salah satu stasiun televisi. Sebelum pergi, Sule mengizinkan kameramen VIVAnews mengambil suasana kamarnya sekali lagi. Kamera membidik foto Sule bergaya Rhoma Irama, dan tiba-tiba Sule menyelutuk, “Lebih mirip mana, saya atau Bang Haji Rhoma?” Dia kembali meniru gaya si raja dangdut itu. Semua orang di kamar itu tertawa.

Tiba-tiba, sewaktu kameramen asyik merekam gambar, Sule melesat keluar kamar. Dia menutup pintu, dan menguncinya dari luar. “Haha, ayo, kamu di dalam saja ya. Jaga kamar ya, saya mau kerja dulu,” ujar Sule sambil terbahak meninggalkan kameramen yang melongo.  Sule menghilang sekitar dua menit, lalu kembali membuka pintu kamar itu.

Dia memang suka jahil. Tapi juga spontan. Seperti asal kata “prikitiew” yang jadi tagline-nya itu. Kata itu sebetulnya tak punya arti khusus, seperti halnya siulan nakal yang dibunyikan ‘suit-suit’, atau ujaran ‘cieee’, dan ‘jiaah’. Sule menemukan kata itu di Facebook.

Pada suatu hari, dia chatting dengan pelawak Parto melalui Blackberry. “Waktu itu Parto berduaan sama istri. Saya spontan bilang ‘prikitiew’,” ujarnya. Pada satu tayangan hiburan, dia tampil bersama Parto, dan kata ‘prikitiew’ itu muncul lagi. Lalu, kata itu pun akrab dan melekat dengan Sule.

Di depan kamar kosnya, mobil Nissan Terrano merah sudah siap menunggu. Menurut Sule, mobil ini selalu dicuci sebelum dipakai mengantar jemput dirinya. Mobil itu juga yang membawa dia ke Bandung, kalau saat pulang menjenguk istri. “Saya sayang mobil ini. Hasil kerja keras saya selama ini,” ujar Sule bersemangat.

Tapi, isengnya kembali kumat. Dia tak masuk ke mobil, Sule justru naik ke atas motor reporter VIVAnews yang terparkir di depan mobilnya. “Ayo berangkat, semua naik mobil ini. Kita ngebut …” katanya sambil bergaya di atas motor.

Salah seorang temannya berkata, “Le, itu bukan mobil, tapi motor.”

“Oh iya iya. Mobilnya langsing. Nggak jadi, deh,” ujar Sule tersenyum. Dia lalu masuk ke mobilnya, dan melesat ke tempat kerja.

***

Esok harinya, pertemuan dengan Sule berlanjut sebelum syuting ‘Sahur OVJ’. Pada waktu Ramadan, acara itu live setiap pukul 02.00 Wib. Wajah Sule masih mengantuk. Ternyata, malam itu dia tidur di studio, karena syuting baru kelar tengah malam. “Kalau pulang dulu, takutnya syutingnya terlambat,” katanya.

Muka Sule kembali segar ketika bercerita soal istrinya. Saat itu waktunya sahur. “Saya kangen sahur bareng istri. Kangen disiapin makanan. Biasanya sih, sebentar lagi istri akan SMS menanyakan saya sudah sahur atau belum,” ujarnya.

Jika di rumah, dia juga kerap membuat anak-anaknya tertawa. “Karena jarang bertemu inginnya happy. Saya sering melucu, hingga mereka tertawa terbahak-bahak,” ujarnya. Anaknya ada tiga. Paling tua berusia 11 tahun, lalu 8 tahun, dan yang kecil 2,5 tahun.

Tapi, menurut Sule, tak di semua tempat dia bercanda. “Pelawak kan juga manusia,  ibaratnya tukang cukur. Kalau sedang mencukur ya dia pencukur. Tapi kalau di rumah, dia jadi kepala rumah tangga . Bila berbicara dengan klien pun begitu. Berusaha memposisikan diri, dia suka bercanda tidak. Kalau suka, ya saya ajak bercanda. Kalau tidak, ya saya jaga jarak,” ujarnya.

Itulah Sule, salah satu pelawak termahal tahun ini. Dunia industri hiburan memang bisa mengubah nasib orang dalam semalam. Tapi bagi Sule, dia ingin menjaga hidupnya tetap sederhana. “Saya adalah saya, yang apa adanya,” ujarnya (np).

Perihal ighoen
jadikan hidup lebih bermanfaat menuju akhirat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: