Makanan Tiwul akan Hadir

Di desa Talang Jali kec. Kotabumi Utara Kab. kotabumi-Lampung Utara Provinsi Lampung berdiri sebuah industri makanan tempo dulu, salah satunya adalah “TIWUL”. TIWUL dahulu merupakan makanan pribumi Indonesia khususnya masyarakat Jawa di jaman penjajahan. Tiwul yang berbahan baku singkong diolah melalui perendaman dan penjemuran yang berfungsi menghilangkan racun singkong, lalu digiling hingga berbentuk tepung kemudian dibentuk menjadi granul. Pada era Presiden Suharto semua penduduk Indonesia dari Sabang sampai Merauke di anjurkan merubah pola makan dari makanan tradisional (Tiwul, sego jagung, Sagu dll,) menjadi makan nasi sebagai makanan pokok. ternyata Zaman sekarang mengalami krisis pangan terutama krisis beras (akibat populasi penduduk padat dan fungsi sawah berubah). saat ini kita harus berpikir kreatif untuk mengatasi krisis pangan ini, salah satunya Industri yang fokus terhadap makanan alternatif. Tiwul yang dianggap sebagai makanan rendah gula (karbohidrat) baik untuk penderita diabetes, pencegah sakit maag, baik pula untuk diet, dll.

Industri Tiwul yang berada di kotabumi ini rencana akan lounching awal tahun baru 2013. nasi tiwul Instan dengan kemasan dari 250gr-10Kg, siap melayani konsumen pecinta nasi tiwul yang kangen dengan makanan tempo dulu, terutama penderita diabetes yang membutuhkan makanan pengganti nasi dari beras.

Untuk pemesanan bisa dimulai sekarang dengan menghubungi bagian pemasaran :
Tri Gunawan no HP 0852 69824667.

MARI KITA GALAKKAN MAKANAN ALTERNATIF, untuk mengatasi Krisis pangan dunia.

Jadwal PLPG Rayon 7 Universitas Lampung

A. Jadwal Pelaksanaan PLPG Tahun 2012 :

a. Tahap ke-1 (11 Mei – 20 Mei 2012)
b. Tahap ke-2 (23 Mei – 1 Juni 2012)
c. Tahap ke-3 (4 Juni – 13 Juni 2012)
d. Tahap ke-4 (15 Juni – 24 Juni 2012)
e. Tahap ke-5 (27 Juni – 6 Juli 2012)
f. Tahap ke-6 (9 Juli – 18 Juli 2012)
g. Tahap ke-7 (23 Juli – 1 Agustus 2012)
h. Tahap ke-8 (3 Agustus – 12 Agustus 2012)

• Kelas sudah dibagi berdasarkan skor Ujian Kompetensi Awal (UKA), tidak ada mutasi kelas.
• Guru Bidang Studi yang tidak ada di jadwal Rayon 107 Universitas Lampung, silahkan menghubungi LPMP Provinsi Lampung.

B. Persyaratan Peserta PLPG 2012:
1. Membawa referensi, data yang relevan dengan bidang keahlian masing-masing :
2. Berkas A.1 yang dilampiri bukti fisik (sama dengan yang diserahkan kepada dinas)
3. fotokopi Ijazah yang sudah dilegalisir.
4. fotokopi SK Pengangkatan dan SK terakhir yang disahkan oleh pejabat terkait.
5. fotokopi SK mengajar dari Kepala Sekolah yang disahkan oleh atasan.
6. Guru Kelas dan Guru Mata Pelajaran membawa Kurikulum, buku referensi, contoh RPP, media pembelajaran, contoh Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan Laptop.
7. Guru BP membawa buku, referensi, contoh rencana layanan bimbingan, contoh laporan pelaksanaan bimbingan dan Laptop.
8. Surat Tugas dari Kepala Sekolah/Dinas Pendidikan, Pakaian Dinas Harian (PDH) dan pakaian untuk keperluan sehari-hari.
Catatan :
• PLPG diselenggarakan selama 10 hari, peserta check-in pada hari pertama pukul 15.00-18.00 di lokasi yang ditetapkan.
• Guru Konseling dan Pengawas Menyesuaikan.

Sumber : http://fkip.unila.ac.id/jadwal-plpg/

Balada Titus Bonai


Tibo bersama Ramadhan Pohan (foto uploaded by Riza.Fahdli @kaskus.us)

Bergabungnya Titus Bonai untuk mengikuti TC Timnas di Yogyakarta membuat pihak Persipura seakan kebakaran jenggot. Betapa tidak, Tibo, yang diklaim pergi ke Jakarta untuk berobat, tiba-tiba nongol di tempat TC Timnas.

Persipura seakan tak rela Tibo dibiarkan bergabung ke timnas PSSI. Sekretaris Umum Persipura, Thamrin Sagala mengungkapkan pihaknya akan menggugat PSSI. Menurut Thamrin, langkah PSSI merekrut Tibo adalah langkah yang serampangan.

“Tibo itu masih terikat kontrak dengan Persipura. kalau mereka (PSSI) tahu aturan tidak mungkin melakukan itu,” ujar Thamrin kepada INILAH.COM, Rabu (9/5/2012).

Persoalan kontrak tersebut, tegas Thamrin, bisa jadi masalah hukum, pasalnya Tibo hingga saat ini masih berstatus pemain Persipura yang berlaga di Liga Super Indonesia (ISL).

“Itu ada persoalan hukumnya. Persipura nggak mungkin diam. Nggak bisa dibiarkan,” tandasnyaThamrin.

Seakan tak puas dengan kesiapan menggugat PSSI, Persipura juga siap menjegal karir Tibo. “Klub mana yang mau makai dia lagi. Jangan melanggar etika, nggak akan panjang karirnya dia,” ujar Thamrin.

Jika benar Tibo masih terikat kontrak dengan Persipura, mengapa di awal April kemarin manajemen Persipura melansir berita tentang keluarnya Tibo?(http://bola.kompas.com/read/2012/04/09/11211523/Titus.Bonai.Resmi.Tinggalkan.Persipura). Beberapa saat setelah berita tersebut, situs Persipura sempat menghilangkan Tibo dari susunan daftar pemain. Dan ketika berita Tibo masuk timnas, iseng-iseng saya tengok lagi situs Persipura, ternyata nama Tibo sudah dikembalikan lagi ke tempatnya.

Adalah hal yang paling aneh jika niat Persipura menggugat PSSI benar dilanjutkan. Masalahnya, PSSI bukan klub. Jika Tibo bermain untuk klub lain, sementara dia masih terikat kontrak dengan Persipura, pihak Persipura bisa menggugat sang pemain dan klub tersebut. Lain halnya jika sang pemain memilih untuk memperkuat timnas negaranya. Pemanggilan seorang pemain untuk memperkuat timnas adalah hak dari federasi. Meski jika pemanggilan itu bukan untuk pertandingan di agenda resmi FIFA, pihak klub boleh mengajukan keberatan dan menolak mengijinkan sang pemain.

Dalam regulasi FIFA, saya belum menemukan petunjuk apabila si pemain memilih memperkuat timnas tanpa ijin klub, apakah bisa klub tersebut menggugat federasinya. Dalam kasus-kasus biasa, misal si pemain mangkir dari klub tanpa kejelasan, atau tidak mentaati aturan internal klub, maka pihak klub yang akan menghukum/memberikan sanksi pada si pemain. Hukuman atau denda yang beragam, mulai pemotongan gaji, memarkir pemain di bangku cadangan, hingga menjual/melepas pemain.

Kalau memang Tibo dianggap bersalah oleh Persipura, adalah hak Persipura untuk menghukum Tibo. Bukannya menuntut PSSI. Jika benar Persipura menggugat PSSI, kemanakah gugatan itu akan dilayangkan? Ke FIFA atau ke CAS? Dan, sekali lagi jika benar Persipura berani akan menggugat PSSI, maka akan semakin jelas kabar burung yang menyebutkan bahwa pemain ISL memang terbelenggu mafia sepakbola.

sumber : http://olahraga.kompasiana.com/bola/2012/05/09/balada-titus-bonai/

Turnamen Al-Nakbah Bukan Turnamen Kacangan

Keputusan PSSI untuk berpartisipasi dalam Turnamen Al Nakbah di Palestina mengundang banyak pro dan kontra. Selain turnamen tersebut bukan agenda resmi FIFA, keputusan PSSI yang mengirimkan timnas senior dalam turnamen tersebut juga dicibir banyak pihak. Alasannya, lawan-lawan dalam turnamen tersebut malah mengirimkan timnas junior, mulai U19 hingga U23. Ibaratnya, lawan tanding timnas senior hanya sekedar remaja. Menang tak dapat apresiasi, kalah tambah dicaci. Benarkah negara-negara yang berpartisipasi dalam turnamen tersebut hanya mengirimkan timnas junior?

Pendapat tersebut hanyalah sekedar akal-akalan beberapa pihak yang tidak senang dengan langkah-langkah PSSI. Buktinya, beberapa negara yang peringkatnya diatas Indonesia, malah mengirimkan timnas senior mereka. Berikut daftar negara peserta dan timnas yang dikirim:

Tunisia – Peringkat FIFA 57 – Senior

Uzbekistan – Peringkat FIFA 69 – Senior

Iraq – Peringkat FIFA 70 – Senior

Jordania – Peringkat FIFA 81 – U22

Vietnam – Peringkat FIFA 97 – U19

Indonesia – Peringkat FIFA 151 – Senior

Palestina – Peringkat FIFA 153 – Senior

Sri Lanka – Peringkat FIFA 181 – Senior

Pakistan – Peringkat FIFA 182 – U22

Mauritania – Peringkat FIFA 202 – Senior
Beberapa media hanya menyoroti keikutsertaan timnas U-19 Vietnam dan U-22 Pakistan, sementara kiprah negara-negara lain yang mengirimkan timnas seniornya luput dari pemberitaan.

Memang, adalah hak dari setiap federasi negara yang bersangkutan untuk mengirimkan timnas junior atau senior mereka, tergantung proyeksi dan tujuan yang ingin dicapai ketika mengikuti turnamen ini. Vietnam mengirimkan timnas junior sebagai proyeksi Sea Games 2013. Sementara Pakistan mengirimkan tim junior mereka sebagai landasan pada AFC Cup U-22. PSSI sendiri sudah menyatakan pengiriman timnas senior sebagai ajang uji coba dan proyeksi pada Piala AFF akhir tahun nanti.

Lantas, mengapa PSSI tidak mengirimkan timnas U-22? Padahal agenda terdekat adalah kualifikasi AFC Cup U-22 di Riau. Timnas U-22 sudah dijadwalkan untuk bertanding melawan Inter Milan dalam laga Ekshibisi di Gelora Bung Karno, dan selanjutnya akan menjalani TC dan uji coba melawan beberapa klub di Australia. Sedangkan timnas senior, selain beruji coba dengan beberapa klub lokal, salah satu yang sudah diagendakan PSSI adalah mengikuti Turnamen Al Nakbah ini.

Pihak panitia turnamen ini juga sudah mengundang sekitar 600 jurnalis olahraga internasional. Dan acara pembukaan direncanakan akan dihadiri oleh beberapa pejabat FIFA. Tahun lalu, Presiden FIFA Sepp Blatter membuka turnamen ini.

Jadi, bisa dilihat turnamen ini bukan sekedar turnamen asal-asalan. Kita harapkan, selain menimba pengalaman dan mematangkan teknik strategi, timnas Indonesia bisa meraih prestasi

sumber : http://olahraga.kompasiana.com/bola/2012/05/04/turnamen-al-nakbah-bukan-turnamen-kacangan/

MISTERI KERINDUAN KPSI PADA SANKSI FIFA TERUNGKAP

Misteri Kerinduan KPSI pada Sanksi FIFA Terungkap

Misteri mengapa KPSI berniat merebut kursi pimpinan lewat kudeta KLB gagal pada pimpinan PSSI yang sah serta misteri lainnya tentang alasan logis dibalikKeluarnya Manifesto ke 7 KPSI yang intinya “jika perjuangan tidak berhasil (lewat sabotase & kudeta pada pimpinan PSSI yg sah)maka seluruh pendukung KPSI wajib berusaha agar seluruh Sepakbola Indonesia HARUS kena Sanksi, sehingga tidak hanya kelompok pro KPSI saja yang kena sanksi”mulai terungkap ke depan Publik Indonesia.

Ternyata ditemukan indikasi penyimpangan dalam pengelolaan keuangan di organisasi sepak bola Indonesia era kepemimpinan Nurdin Halid dan Nugraha Besoes. Indikasi temuan penyimpangan berdasarkan Laporan Audit dari Delloitte (lembaga akuntan publik bertaraf internasional) yang digunakan PSSI era Djohar Arifin Husin untuk memperbaiki manajemen dan transparansi semuanya

Ketua Komite Audit Internal Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), Asril Oemry menyebutkan pihaknya akan terus mengusut dugaan tersebut dengan bantuan pihak Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Kerja sama antara BPKP dan PSSI, merupakan kelanjutan proses yang pernah terjalin beberapa waktu lalu. Selanjutnya jika ditemukan ada penyelewengan, akan diserahkan kepada pihak yang berwajib. Nurdin Halid disinyalir tidak transparan soal aliran uang masuk dan keluar, termasuk tidak adanya keterbukaan terkait dana yang didapat PSSI dari pemerintah, sponsor, maupun penggunaannya.

Ditemukan juga dugaan pencucian uang saat PSSI diurusi Nurdin Halid antara tahun 2009 sampai 2011. Modus Operandinya adalah seorang oknum mengirimkan uang lebih dari Rp20 miliar ke PSSI untuk membantu biaya kepelatihan di luar negeri, namun tidak ada uangnya. Selanjutnya tercatat PSSI mengembalikan uang ke oknum tersebut.

Terkait audit operasional PSSI era terdahulu maka Auditor BPKP tidak hanya mengaudit keuangan kepengurusan PSSI era Nurdin Halid, namun juga keuangan PT Liga Indonesia. BPKP juga akan akan memeriksa proses illegal dalam pengalihan saham PSSI di PT Liga Indonesia yang mencapai 99 persen kepada Klub-Klub ISL yang berjumlah 18 Klub yang (anehnya) hampir semua dikuasai atau dikendalikan oleh sebuah kelompok usaha yang terkait partai tertentu. Anehnya pengalihan saham dilakukan dalam RUPS yang tidak mengundang PSSI sebagai pemegang saham mayoritas (99%), kalau bukan manipulasi apalagi namanya kelakuan oknum-oknum binaan KPSI ini …

Anggota Komite Audit PSSI, Klemi Soebijanto menegaskan bahwa sesuai catatan di Kemenkumham PSSI masih sah sebagai pemilik 99 persen saham PT.LI. Adalah suatu ketidak benaran jika ada pihak yang mengaku saham sudah berpindah tangan sehingga PSSI hanya menguasai 1 persennya dan 99 persennya adalah milik klub. Berdasarkan bukti-bukti hukum yang ada PSSI berhak untuk melakukan audit dan meminta Rapat Umum Pemegang Saham PT.LI.

Kalau ada kemungkinan pencucian uang dalam operasionalisai PSSI lama dengan liga profesionalnya yaitu ISL yang sangat anti audit dan menolak pemberhentian APBD sebagai darah dari liga tersebut maka yang bertanggung jawab adalah pengelola PT.LI a/n bapak JD (sekjen KPSI) dan penguasa serta kingmaker PSSI selama NH dipenjara yaitu bapak NB, tentunya disamping sang tuan yaitu NH (mantan narapidana) sendiri

Mungkin Pencucian uang 20 milyar itu adalah uang “panas” hasil kejahatan masuk kas dan digunakan untuk pengelolaan sehari-hari lengkap dengan mark up untuk keuntungan pengurusnya. Serta kemungkinan ada praktek bagi hasil dengan jajaran PSSI diseluruh Indonesia (sehingga loyal sekali pada kelompok lama)…. Disisi lain uang dari pemerintah berupa dana APBN dan APBD akan dikembalikan pada pemasok uang setelah dipotong aneka pembagian keuntungan dari pencucian uang maka para pemasok uang mendapatkan dana yang sudah “dingin” atau “bersih karena sudah bayar pajak, serta masuklewat jalurperusahaan-perusahaan legal seperti perusahaan pengadaan, hotel, pemasok atau agen perjalanan dan katering yang mengeluarkan semua kwitansi secara sah (tentunya dapat komisi).

Dana “hitam” dan “Kotor”serta “Panas” setelah diputihkan dalam kegiatan operasional organisasi akan kembali pada pemasoknya senilai 50-70 % dari nilai awal…. tidak masalah bagi mereka karena uang itu sudah dingin dan bisa dinikmati secara legal, dana itu bersih karena merupakan “keuntungan”atau “bagi hasil” dari “perusahaan2″atau “rekanan2″yang bekerja sama dengan pengurus organisasi tersebut.

Asal dana gelap sebagai bahan baku pencucian uang bisa dari mana dan siapa saja bisa dari pejabat nakal, pengusaha hitam atau memang dari para calo proyek dan makelar bisnis jahat… Bisa dari ilegal logging, illegal fishing, korupsi pejabat dan DPR/DPRD, penyelundupan, penggelapan pajak, komisi jual beli, makelar pengadaan, travel biro, narkoba, perusahaan security, bank gelap, perjudian, pengaturan skor pertandingan, dll. makanya tidak heran menjadi pengurus organisasi PSSI (yang bebas audit) menjadi incaran banyak pihak….

Fenomena kejahatan berjamaah dimaklumi karena pengurus PSSI lama demikian berkuasa dan demikian kuatnya sehingga mereka berasumsi akan selamanya menguasai sistem ini, dimana pemimpin boleh ganti namun sistem ini mereka pelihara turun temurun lewat Jaringan Klub-Klub ISL yang sebagian besar dikuasai mereka (secara keuangan, kepemilikan, politik atau pengaruh), Jaringan Pengurus Propinsi PSSI (dapat bagi hasil cukup besar serta kekuatan politik), Jaringan wartawan & media cetak (tabloid bola & koran) dan yang dapat insentif, baik dana atau iklan serta media TV yang dikuasai mereka, dan yang terpenting Jaringan suporter bola yang pengurusnya dapat insentif dari mereka.

Sesungguhnya kekuatan rezim lama masih sangat kuat setelah lengsernya mantan Ketua Umum NH dan mantan Sekjen NB, sehingga system sepakbola korup masih terjaga. Prof.Djohar Arifin dibiarkan terpilih dengan asumsi pengurus PSSI baru juga bisa dibeli seperti masa lampau. Walhasil saat pemimpin PSSI baru menolak untuk dibeli maka system ini jadi kelimpungan, Rasa percaya diri dan kekuatan besar namun mengangap remeh ketertiban administrasi dan audit jadi kelemahan mereka. Maklum terbiasa semboyan dengan uang semua bisa diatur. Mengakibatkan jadi seakan buta dan tuli serta bebal (buta dan tuli dalam pikiran), mereka beranggapan orang lain tidak tahu atau tidak perduli, selain itu beranggapan organisasi atasan PSSI seperti AFC dan FIFA juga tidak tahu atau tidak perduli selama “setoran”lancar…..

Namun masa Bulan madu pasti berakhir karena beberapa tahun terakhir mulai bergulir reformasi dalam FIFA untuk menghentikan aktivitas hitam mafia sepakbola termasuk perjudian, pengaturan skor dan korupsi serta pencucian uang. Makanya audit dan taat aturan menjadi syarat mutlak sebuah federasi, liga dan klub sepakbola.

Jelas huru-hara PSSI ini bukan akibat tindakan PSSI Prof.Johar cs saja karena jaman telekomunikasi bebas dan murah serba internet begini orang AFC dan FIFA nggak buta, tuli dan bebal (buta tuli pikiran) , sehingga mereka sudah tahu semua informasi dan sepak terjang PSSI lama yang sangat didukung sistem sepakbola korup Indonesia. Wajar dan tidak mengherankan saat ada kesempatan pergantian pengurus PSSI maka AFC/FIFA langsung memerintahkan keharusan menerapkan berbagai aturan dan larangan dari AFC/ FIFA untuk menghapus sistem koruptif yang lama.

Jadi program pembersihan sistem koruptif dalam kepengurusan federasi dan liga profesional Indonesia adalah kehendak dari AFC/FIFA, dan PSSI hanya alat pembersihnya, buktinya semua keramaian ini berakhir dengan sampai saat ini status keabsahan KPSI praktis Ilegal 100% dan keabsahan PSSI tetap legal 100% (diakui sah oleh KONI,KOI, Kemenpora, Kemendiknas, AFC/FIFA, CAS,dll). Kuatnya FIFA terbukti dengan tidak ada satupun dokumen atau badan yang menyatakan KPSI itu eksis, kecuali dimata para penyembahnya termasuk pengurus klub-klub ISL yg merupakan bagian dari sistem koruptif dan manipulatif untuk mempertahankan kendali kekuasaan di persepakbolaan Indonesia (cara demokratis lewat KLB, cara kasar lewat sabotase kegiatan pembinaan dan kompetisi di kalender PSSI, penyanderaan pemain Timnas dan teror serta propaganda mediamassa)

Para penabuh genderang Tarian Sesat PSSI lama yang diwakili oleh KPSI ini pasti sangat ngeri akan terbongkarnya praktek koruptif dan manipulatif nya selama menyalahgunakan roda organisasi PSSI. Demi kepentingan pribadi dan kelompoknya tanpa perduli ketiadaan prestasi PSSI selama bertahun-tahun…..semata-mata hanya demi uang …uang…uang…..dan kekuasaan.

Tidak heran pimpinan KPSI dan penyembahnya selalu berupaya mensabotase program PSSI, namun karena makin terpojok nampak jelas tidak bisa menyembunyikan keinginan dan kerinduan akan jatuhnya Sanksi FIFA bagi Sepakbola Indonesia agar kelakuan masa lalu dan masa kini mereka yang sesat tidak terungkap.

Anehnya meskipun KPSI amat sangat merindukan Sanksi FIFA namun KPSI tetap menginginkan bagaimana caranya tidak mau menjalani sendirian dan menginginkan stake holder sepakbola Indonesia lainnya harus kena sanksi FIFA juga. Benar-benar TERLALU….!!!

sumber : http://olahraga.kompasiana.com/bola/2012/05/03/misteri-kerinduan-kpsi-pada-sanksi-fifa-terungkap/

Mereka pun Iri Terhadap Zamzam

BERITA BBC hari Kamis (05/5) yang menyebutkan air Zamzam dari Makkah yang dijual di Inggris terkontaminasi beberapa hari lalu sesungguhnya tak mengejutkan.

Tuduhan seperti ini sesungguhnya bukan yang pertama kali. Food Standards Agency Inggris bahkan pernah merilis pernyataan di situsnya (30 Juli 2010), yang menyerukan agar orang-orang mempertimbangkan untuk tidak meminum air Zamzam. 

Usaha-usaha untuk membuat umat Islam tak percaya rahasia air yang telah dimuliakan Nabi. Allah dalam al-Qur’an menyebut Air Zam-zam dengan istilah ‘’Aayaatun bayyinaatun (air Zam-zam). Ia menjadi menjadi hiasan yang menghiasai keagungan Baitullah yang suci. Air ini telah berusia 5000 tahun lebih, dan mendapat kemuliaan dan keistimewaan dari pemukim Makkah dan tamu-tamu Allah. Semua penduduk Makkah benar-benar memulyakan air surga ini, sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Saw dan para sahabatnya. Nabi dan para sahabat telah menjadi pelayan Baitullah serta penduduk Makkah sesuai dengan yang digariskan Allah Swt.

Sejarah Zamzam

Alkisah setelah tiba di suatu lembah sunyi, kering dan tak berpenghuni, Ibrahim Alaihissalam meninggalkan Hajar beserta sang putra beliau Ismail yang saat itu masih menyusu. Ditinggalkan pula sebuah periuk berisi korma dan tempat minum yang berisi air.

Ketika Ibrahim beranjak pergi, Hajar mengikutinya dan mengatakan, ”Wahai Ibrahim, ke mana engkau hendak pergi, engkau meninggalkan kami di lembah yang tidak berpenghuni.” Berkali- kali Hajar mengulangi kata-kata itu, sedangkan Ibrahim tetap tidak menoleh ke arahnya.

Akhirnya Hajar bertanya,”Apakah Allah memerintahkanmu melakukan hal ini?” Ibrahim menjawab,”Iya.” Hajar lega dengan jawaban itu, hingga  mengatakan,”Jika demikian, Allah tidak akan membiarkan kami.” Lantas, sang istri kembali ke tempat semula dimana ia ditinggalkan.

Hajar tinggal hingga perbekalan habis. Beserta putranya, beliau mulai merasakan kehausan. Beliau berlari-lari menuju bukit Shafa untuk melihat, apakah ada orang di sekitarnya. Ternyata, setelah tiba di tempat itu, tidak ada siapa pun yang terlihat. Akhirnya Hajar mencoba menuju Marwah untuk tujuan yang sama, namun apa yang diharapkan tidak diperoleh, hingga beliau berlari-lari keci,l bolak-balik antara Shafa-Marwa hingga tujuh kali, dengan hasil yang sama. Saat itulah malaikat turun di tempat dimana Ismail ditinggalkan. Di tempat itulah akhirnya air mamancar. Hingga malaikat itu mengatakan kepada Hajar,”Janganlah khawatir disia-siakan. Sesungguhnya di tempat inilah Baitullah yang akan dibangun oleh anak ini dan ayahnya.”

Itulah kisah yang termaktub dalam Shahih Al Bukhari mengenai asal usul mata air yang disebut dengan Zamzam ini.

Dalam Shahih Al Bukhari juga dijelaskan bahwa setelah itu sebuah kafilah menyaksikan ada beberapa burung berputar-putar, hingga mereka berkesimpulan bahwa burung-burung tersebut melihat air. Diutuslah dua budak kafilah untuk melihat. Mereka kembali dengan mambawa berita gembira, bahwa memang di tempat itu ada air. Mereka akhirnya meminta izin kepada Hajar untuk tinggal. Kafilah dari Syam ini memperoleh izin, namun tidak berhak menguasai air Zamzam. Mereka ini yang disebut Al Azraqi sebagai kabilah Jurhum. Kabilah ini akhirnya hidup berdampingan dengan keluarga Hajar. (Akhbar Makkah, hal. 29)

Al Azraqi menyebutkan, bahwa setelah Ismail Alaihissalam wafat, penguasaan terhadap Ka’bah yang mana Zamzam merupakan bagiannya, turun kepada keturunan beliau,  Bani Ismail bin Ibrahim. Namun, setelah Bani Ismail melemah, Bani Jurhum menggantikan posisi mereka. (Akhbar Makkah, hal. 44)

Saat Bani Jurhum berkuasa di Makkah, datanglah Kabilah Khaza’ah yang berasal dari Yaman. Merka berbondong-bondong pergi ke Makkah, karena tertarik dengan sumber air Zamzam yang melimpah itu. Akhirnya mereka memutuskan tinggal di tempat itu. Perselisihan dengan Jurhum sering terjadi, hingga terjadi pertempuran antara kedua kabilah tersebut. Jurhum kalah dalam pertempuran, mereka terusir. (Akhbar Makkah, hal.51)

Ibnu Ishaq meriwayatkan bahwa saat kabilah Jurhum keluar Makkah itulah, mereka sengaja menimbun mata air Zamzam, hingga tidak diketahui bekasnya. (Lihat, Sirah Ibnu Hisyam, 1/116)

Mata air Zamzam kemudian digali kembali oleh Abdul Muthallib, setelah ia bermimpi mendapat perintah untuk menggalinya. Dalam mimpi, Abdul Muthallib juga mendapat petunjuk posisi mata air tersebut. Salah satu ciri yang disebutkan adalah adanya sarang semut dan tempat burung gagak biasa mengais. Dengan putra satu-satunya, Harits. Abdul Muthallib melakukan penggalian. Setelah itu, dirinyalah yang bertanggung jawab menjaga mata air Zamzam dan memberi minum jam’ah haji. (Lihat, Sirah Ibnu Hisyam, 1/150)

Upaya Menjauhkan Umat Islam dari Zamzam

Pasca Abdul Muthallib, pengelolan air Zamzam diwariskan turun-temurun, dari generasi ke generasi selanjutnya. Dan Zamzam tetap menjadi air yang diminati oleh seluruh Muslim di seluruh penjuru dunia. Hingga akhirnya ada pihak yang iri, dan mencoba membuat sumur di luar Makkah, agar para jama’ah meninggalkan sumur Zamzam yang penuh berkah itu.

Perbuatan tersebut dilakukan oleh Khalid bin Abdullah Al Qasri, penguasa Makkah pada tahun 89 H. Namun upaya yang dilakukan seorang yang suka mencela Ali bin Abi Thalib ini gagal, karena umat Islam tetap berbondong-bondong menuju sumber Zamzam. Dan tak mengiraukan seruan Khalid. Hingga akhirnya, sumur tersebut ditimbun dan tak berbekas (lihat, Raudhah Al Anf,1/170)

Hal yang menghebohkan juga terjadi pada tahun 1304 H mengenai Zamzam, dimana Konsulat Inggris yang berkedudukan di Jeddah mengeluarkan penyataan bahwa air Zamzam banyak dicemari kuman-kuman berbahaya, dan mengandung kolera.

Kabar itu pun akhirnya sampai di telinga Khalifah Utsmaniyah, Abdul Hamid II. Akhirnya beliau memutuskan untuk mengirim beberapa dokter Muslim ke Makkah untuk membuktikan pernyataan miring tersebut. Hasilnya, setelah diteliti, air Zamzam tetap air yang terbaik. Setelah itu pihak Utsmani mengeluarkan pernyataan untuk menyanggah klaim pihak penjajah itu. (Fadha`il Ma` Zamzam, hal. 161-163)

Tradisi penjagaan Zamzam terus berlanjut, hingga akhirnya klan Zamazimah bertanggung jawab memelihara Zamzam. Dengan terbentuknya Kerajaan Saudi,  Zamazimah tetap berkhidmat kepada jama’ah haji dalam membagikan air Zamzam atas dasar keputusan pemerintahan lokal.

Di masa pemerintahan Raja Faishal, pada tahun 1384 H, dibuka kesempatan bagi berbagai kabilah untuk berkompetisi dalam pengelolahan Zamzam, hingga siapa saja memiliki kesempatan yang sama untuk berkhidmat kepada jama’ah haji.

Pengelohahan air Zamzam pada tahun 1403 benar-benar sudah lepas dari dominasi kabilah tertentu, setelah dibentuknya Maktab Az Zimazamah Al Muwahhad, yang merupakan yayasan yang bertugas secara khusus mengelolah air Zamzam. Dan hal itu berlangsung hingga saat ini.

Kini para jama’ah haji dari berbagai negeri yang baru tiba di Arab Saudi, sudah bisa mereguk segarnya air Zamzam sebelum masuk ke Makkah atas jasa yayasan ini. Demikian pula untuk para jama’ah yang hendak meninggalkan kota suci setelah mereka menunaikan ibadah haji, mereka akan membawa pulang Zamzam dalam botol kemasan yang berlogo Ka’bah dengan dua gerabah air yang diproduksi oleh yayasan tersebut.*

Mulianya Menjadi Ibu Rumah Tangga

 

 

 

Oleh: Shaifurrokhman Mahfudz, Lc. M.Sh

Ibu adalah sekolah
Jika engkau mempersiapkannya
Berarti engkau mempersiapkan generasi berketurunan baik

MENJADI ibu adalah kodrat setiap wanita, tetapi pilihan untuk menekuni diri sebagai ibu rumah tangga bukanlah tugas yang mudah. Di tengah kepungan budaya Barat dan penjajahan media, kaum wanita hari ini telah meninggalkan identitas mulianya sebagai ‘benteng ummat’. Sebagian mereka menyibukkan diri dengan urusan-urusan kecil yang remeh, pernak-pernik perhiasan dan persaingan gaya hidup modern yang menjauhkan mereka dari keutamaan individu dan sosial. Seorang ibu dengan tampilan ‘wah’ yang bergelut mengejar materi dan status sosialnya akan lebih disegani dibandingkan ibu rumah tangga sederhana yang waktunya lebih banyak dihabiskan untuk mengasuh dan mendidik anak-anaknya.

Hidup di zaman ini membutuhkan ketahanan yang luar biasa. Sebagai muslim, bekal ilmu dan keduniaan yang dikaruniai Allah Swt seharusnya meyakinkan mereka akan kebenaran petunjuk Allah yang menegaskan prinsip kesetaraan (gender equality), bahwa kaum ibu bermitra sejajar dengan kaum laki-laki, dalam posisi yang sangat istimewa. Yaitu sebagai pendidik generasi penerus yang akan melanjutkan perjuangan diri dan keluarganya. Mendidik diri dan keluarganya untuk selalu memahami dan mengikuti bimbingan Allah dan Rasul-Nya. Inilah investasi besar yang sering diremehkan oleh para ‘penikmat dunia’.
Pesan Istimewa untuk Para Wanita

Salah satu pesan istimewa Allah Swt kepada kaum wanita diabadikan dalam ayat berikut; “dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu, dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta’atilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. (QS. 33:33)

Sesungguhnya kemajuan di zaman ini banyak diilhami oleh ayat diatas. Allah Swt menghendaki kaum wanita agar berperilaku lemah lembut, pemalu dan penuh kasih sayang kepada orang-orang di sekitarnya, tidak melakukan ucapan dan tindakan yang menimbulkan godaaan yang akan menjatuhkan martabat kaum wanita.

Karena, kehalusan budi dan tingkah laku wanita adalah salah satu pilar utama kehidupan. Ibu-ibu yang shalih akan mendidik anak-anaknya untuk menjadi shalih.

Bahkan, kaum ibu dahulu mampu membangun karakter pribadinya dan melakukan berbagai aktifitas keilmuan dibalik “tembok sunyi “ yang dapat menjaga sifat dan  rasa malu. Itulah kehendak Allah atas kaum wanita. Karakter dan psikis wanita tersebut selaras dengan kondisi fisik yang diciptakan  Allah Swt dalam bentuk yang berbeda dari kondisi yang dimiliki kaum laki-laki. Tubuh wanita diciptakan dalam bentuk yang sesuai benar dengan tugas keibuan, sebagaimana dengan jiwanya yang disiapkan untuk menjadi rumah tangga dan ratu keluarga. Secara umum, organ tubuh wanita, baik yang terlihat maupun yang tidak tersembunyi, otot-otot dan tulang-tulangnya serta sebagian besar fungsi organiknya hingga tingkat yang sangat jauh, berbeda dengan organ tubuh kaum laki-laki yang menjadi pasangannya. Perbedaan dalam struktur dan organ tubuh ini tidak lah sia-sia, sebab tidak ada satu

pun benda, baik dalam tubuh manusia maupun yang ada di seluruh jagat raya ini yang tidak mempunyai hikmah tertentu.

Fitrah Mulia Kaum Ibu

Dengan perbedaan struktur tubuh tersebut, kaum wanita memiliki perasaan dan emosi yang lebih sensitif. Abbas Mahmud al-‘Aqqad mengatakan. “Adalah sesuatu yang alami jika kaum wanita memiliki kondisi emosional yang khusus yang berbeda dengan kondisi yang dimiliki kaum laki-laki”. Keharusan melayani anak yang dilahirkannya tidak terbatas dengan memberi makan dan menyusui. Akan tetapi, dia harus selalu memiliki hubungan emosional yang menuntut banyak hal yang saling melengkapi antara apa yang ada pada dirinya dengan yang ada pada suaminya.

Pemahaman dirinya dalam suatu masalah harus berhadapan dengan pemahaman suaminya yang mungkin saja berbeda. Bahkan, antara tingkat emosinya dengan emosi suaminya harus benar-benar terjaga keseimbangannya. Seorang ibu yang mulia akan memahami betul saat gembira dan sedihnya anak-anak. Demikian halnya sang ibu akan mengajarkan dengan suka ria tentang bagaimana menunjukkan rasa cinta, simpati  dan benci kepada orang lain dengan cara-cara yang baik dan bijaksana.

Sifat-sifat mendasar dalam fungsi pengasahan dan bimbingan terhadap anak-anak ini merupakan salah satu dari sekian banyak sumber kelembutan kewanitaan yang menyebabkan kaum wanita lebih sensitif dalam merespon perasaan. Sebaliknya, apa yang tampak mudah bagi kaum laki-laki bisa menjadi sulit bagi kaum wanita, misalnya dalam menggunakan rasio, menyusun pendapat dan mengerahkan kemauan. Itulah fitrah kaum ibu yang sesungguhnya mulia tetapi seringkali dipandang kelemahan yang memperdaya.

Salah Paham Memandang Islam

Dalam banyak ayat yang tersebar di dalam  al-Qur’an, Allah Swt telah meletakkan kedudukan kaum wanita pada tempat tertinggi dalam sepanjang sejarah kemanusiaan dan akan terus demikian hingga akhir zaman. Sayangnya, ayat-ayat Allah yang dikuatkan dengan hadits Rasulullah Saw itu seringkali disalah-tafsirkan, termasuk oleh para ulama kita sendiri. Syeikh Muhammad al-Ghazali dalam buku Qadhaya al-Mar`ah  bayna at-Taqalid ar-Rakidah wa al-Wafidah, dengan yakin mengatakan; “Fatwa  terkenal di kalangan kaum muslimin yang kemudian diambil alih oleh musuh-musuh Islam adalah tuduhan bahwa Islam telah mendirikan dinding pembatas yang tinggi antara laki-laki dan perempuan, sehingga keduanya tidak dapat saling melihat satu sama lain. Bahkan sekadar memandang pun hukumnya haram”.  Kita juga pernah dikejutkan dengan ucapan seorang khatib yang mengatakan, “wanita tidak boleh keluar dari rumahnya kecuali pergi ke rumah suaminya (sesudah menikah) dan ke kuburan (untuk dikuburkan)!

Tentu saja, fatwa dan khutbah tersebut lahir dari pemahaman dan tafsiran terhadap ayat-ayat Allah dan hadits Nabi Saw yang patut ditinjau ulang. Karena memang, ada masalah dalam fenemona umat Islam berkenaan dengan kemurniaan dan kedalaman riwayat-riwayat hadits yang diterapkan. Diakui, terdapat ulama yang menyebutkan riwayat-riwayat yang tidak sahih dan para ahli fiqh yang tidak memperhatikan perubahan hakikat Islam dan perkembangan zaman. Seperti hadits yang diriwayatkan oleh Fatimah Ra bahwa wanita tidak boleh melihat laki-laki dan juga tidak boleh dilihat laki-laki, sebagaimana hadits Nabi Saw yang melarang sebagian istri Nabi melihat Abdullah ibn Ummi Maktum. Dalam peristiwa yang lain, Ummi Hamid; istri Abu Hamid as-Sa’di pernah menyampaikan perasaan senang hatinya karena bisa shalat berjamaah bersama Rasulullah Saw. Namun, ternyata Rasulullah justru menginginkannya untuk shalat di rumah. Bahkan, semakin sempit tempat, jauh dan sunyi, maka semakin baiklah shalat di tempat itu.

Kritik terhadap Monopoli Tafsiran Agama

Semua riwayat tersebut merupakan hadits yang tidak sama dengan hadits yang ditulis para ulama hadits yang otoritatif, karena hadits-hadits tersebut nyata-nyata bertentangan dengan ketentuan Al-Qur`an dan as-Sunnah. Hadits-hadits semisal itu telah membelenggu kaum wanita dan menyudutkan kedudukan mereka sebagai golongan terbelakang. Lebih dari itu, kedudukan wanita yang demikian rendah itu akan mempengaruhi buruknya sistem keluarga, struktur masyarakat dan prinsip perundang-undangan.

Dalam merespon hal itu, Ibnu Huzaimah melakukan uji ulang dan kritik atas tafsiran hadits-hadits tersebut dengan membuat bab yang menyebutkan masalah “Shalatnya Seorang Wanita di Rumahnya Lebih Baik daripada Shalatnya di Masjid Rasulullah Saw” dan sabda Nabi Saw “Shalat di Masjidku ini Lebih Baik daripada Seribu Kali Shalat di Masjid-Masjid Lain”. Pertanyaan yang segera muncul, adalah jika ungkapan tersebut benar, mengapa Nabi Saw membiarkan wanita-wanita menghadiri shalat berjamaah bersamanya sepanjang sepuluh tahun, dari fajar hingga isya’. Mengapa mereka tidak dinasihati agar tetap tinggal di rumah-rumah mereka sebagia ganti dari ancaman yang batil itu? Mengapa beliau mempercepat shalat fajar dengan membaca dua surat pendek ketika mendengar tangisan anak kecil bersama ibunya sehingga tidak mengganggu hatinya? Mengapa beliau bersabda, “Janganlah kalian melarang hamba-hamba perempuan Allah pergi ke masjid-masjid Allah Swt?

Mengapa pula para Khulafaur Rasyidin menetapkan barisan-barisan wanita di masjid-masjid setelah wafatnya Rasulullah Saw.

Barangkali, Ibnu Huzaimah  ingin menenteramkan dirinya dan hati kawan-kawannya ketika mendustakan hadits-hadits yang melarang wanita shalat di masjid-masjid dan menyebutnya sebagai kebatilan. Para ulama Musthalah Hadits berkata, “Sebuah hadits dianggap ganjil (syadz) jika kebenarannya ditentang oleh hadits yang lebih shahih. Apabila hadits yang menentangnya tidak dipercaya, bahkan lemah, maka hadits tersebut ditinggalkan atau bernilai munkar (tertolak)”.

Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim tidak disebutkan hal-hal yang mengarah pada larangan bagi kaum wanita untuk shalat di masjid-masjid. Hadits-hadits tersebut semuanya ditolak. Lalu, bagaimana jika hadits lemah berlawanan dengan Sunnah yang mutawatir dan dikenal? Hadits tersebut harus ditinggalkan sejak awal.
Agaknya, benarlah prediksi Nabi Saw bahwa telah datang masanya ketika hadits-hadits shahih terkebur oleh egosime keagamaan yang didominasi oleh kelompok-kelompok fanatik yang tidak tahu kecuali riwayat-riwayat yang ditinggalkan dan munkar. Monopoli tafsiran agama mereka seringkali menyakitkan sesama Muslim lainnya dengan tuduhan-tuduhan bid’ah dan kesesatan beragama yang harus ditumpas habis. Jalan dakwah ini seringkali melupakan kewajiban menjaga ukhuwwah diantara ummat Islam yang seharusya menjadi prioritas setiap da’i.

Islam Membebaskan Wanita

Jika dicermati lebih dalam, Islam tidak pernah menghalangi kemajuan kaum wanita. Sebaliknya, dari hasil kajian hadits-hadits di atas dapat dipahami bahwa Islam memberi ruang kebebasan bagi kaum hawa dengan batasan-batasan yang justru menjaga kehormatannya. Larangan terhadap kaum wanita untuk pergi ke masjid bisa diterima ketika mereka berhias secara berlebihan (tabarruj). Dan mencegah wanita dari perbuatan tercela harus dilakukan dengan merealisasikan wasiat Rasulullah Saw yang menyatakan bahwa mereka (kaum wanita) boleh keluar dengan mengenakan baju biasa, atau dengan penampilan sederhana, tidak memakai wangi-wangian dan bergaya. Sedangkan mengeluarkan hukum tentang larangan pergi ke masjid-masjid bagi wanita jelas merupakan cara yang tidak ada kaitannya dengan Islam.

Karena itu, jika seorang wanita telah melaksanakan tugas-tugas domestik di rumahnya, suami tidak berhak melarangnya untuk pergi ke masjid, sebagaimana dijelaskan dalam hadits, “Janganlah kalian melarang hamba-hamba perempuan Allah perhgi ke masjid-masjid-Nya”. Pernyataan ini sejalan dengan kebijakan beliau yang telah menjadikan satu pintu dari pintu-pintu masjid khusus untuk kaum wanita dan beliau menempatkan wanita-wanita dalam jamaah pada barisan paling belakang dalam masjid. Hal itu dimaksudkan untuk menjaga mereka ketika ruku’ dan sujud. Dan beliau mencela laki-laki yang mendekati barisan kaum wanita dan juga mencela wanita yang mendekati barisan kaum laki-laki.

Kebebasan seorang wanita muslim juga tidak akan terganggu karena posisinya sebagai ibu rumah tangga. Ketika Islam mewajibkan suami untuk memberi nafkah keluarganya, maka pada hakikatnya dia memberi ganti kepada kaum wanita untuk kekosongan waktunya, untuk berkiprah demi kebaikan rumah tangganya, membesarkan anak-anaknya dan mencurahkan segenap perhatiannya dalam menunaikan tugas-tugas alamiahnya. “Wanita cantik yang melupakan perhiasannya dan menyibukkan  diri dengan mengasuh anak-anaknya sehingga parasnya berubah adalah wanita yang harus mendapat penghargaan dan kedudukan tinggi”. Ungkapan tersebut boleh jadi benar, tetapi penerapannya sangat ditentukan oleh kondisi masing-masing rumah tangga dan prioritas kemaslahatannya.

Yang terpenting dari itu semua, sebuah keluarga harus mempertahankan tiga hal yang menjadi pilar kebahagiaannya yaitu ketenangan, cinta dan sikap yang saling menyayangi. Kasih sayang bukanlah sejenis perhatian dalam bentuk benda, tetapi merupakan sumber bagi kehangatan yang terus mengalir, sedangkan darahnya adalah akhlak dan tingkah laku yang mulia. Ketika rumah tangga berdiri kukuh di atas kedamaian dan ketenteraman, cinta yang terbalas, dan kasih sayang yang hangat , maka perkawinan menjadi anugerah yang mulia dan harta yang penuh berkah. Ia akan mampu mengatasi berbagai rintangan dan lahirnya keturunan-keturunan yang baik. Dan, keputusan untuk menikmati kemuliaan menjadi ibu rumah tangga adalah langkah penting untuk mewujudkan itu semua.* 

Penulis adalah Sekjen Andalusia Islamic Centre & Dosen STEI Tazkia Bogor